Ujian Nasional, Wildan, dan Ulasan Blogger Boy

Dinas Pendidikan sepertinya tutup mata dengan keberadaan siswa yang berprestasi. Bukankah ini tujuan dari UN yang ingin memajukan pendidikan Nasional?

Tragis benar realita Ujian Nasional (UN) dan pendidikan di Indonesia. Pinter ngga ada yang dibanggakan, kalau bodo ya ngga lulus!

TVOne hari ini sudah memberitakan sisi tragis dari UN. Di Kabar Siang ada berita tentang siswi yang nekat bunuh diri karena ngga lulus. Dan di Kabar Petang, ada wawancara antara TVOne dengan Wildan Rabani. Seorang pelajar yang memperoleh nilai tertinggi di UN dengan nilai terendah 9.0 dan tertinggi 10 (sempurna!) untuk nilai Matematika.

Ingin lanjut ke universitas tidak bisa karena keterbatasan ekonomi, bahkan untuk beli formulir pendaftaran dan ujian masuk juga tidak mampu!

Inikah nasib siswa pintar di Indonesia? Atau inikah manfaat UN? Apakah pendidikan hanya untuk anak orang kaya?

Mengharap beasiswa
Wildan saat ini sedang menunggu hasil ujian masuk dari Universitas Indonesia, Jakarta (UI). Dia tidak bisa mengikuti ujian di universitas lain karena tidak mampu membayar formulir pendaftaran. Tiada jalan lagi selain berharap beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya.

Dan ketika ia berkirim surat ke dinas pendidikan Kota Surabaya, apa jawaban yang di terimanya? “Saat ini tidak ada program beasiswa untuk daerah Surabaya..”Beasiswa kok ada kuota daerah sih? Masuk akal ngga?

Bukannya beasiswa itu memang untuk siswa yang berprestasi dan kurang mampu? Kenapa ada pembagian daerah penerima beasiswa? Kacau bener deh departemen kementrian di Indonesia ini.

Kerelaan hati penonton
Setelah wawancara di break oleh iklan, ternyata ada yang merasa iba terhadap keadaan Wildan. Presiden Direktur PT. Panasonic ingin membantu Wildan untuk mendapat beasiswa di jurusan Kedokteran Universitas Indonesia. Dengan segala cara dia ingin membantu Wildan agar bisa berkuliah.

Nah pertanyaan saya adalah apa ngga malu tuh Dinas Pendidikan Kota Surabaya? Orang lain saja aware terhadap nasib murid pintar, eh lha kok malah Dinas Pendidikan sepertinya tutup mata dengan keberadaan siswa yang berprestasi. Bukankah ini tujuan dari UN yang ingin memajukan pendidikan Nasional?

Kemana Menteri Pendidikan? Sudah butakah beliau atau memang ngga punya TV dirumah, jadi ngga bisa nonton berita? Yang saya tau adalah ketika dia melakukan inspeksi mendadak di beberapa sekolah untuk memastikan tidak ada kebocoran soal. MASALAH KLASIK! Kenapa setelah ada yang berprestasi kok malah ngga kelihatan? Meskipun kelihatan paling cuma jaga images aja, biar ngga kesaingan sama presdir PT Panasonic. Budaya, setelah ada yang mengekspos baru nyadar, biar ngga malu terus dibaik-baikin. hahaha.

Bagaimana pendapat anda? Sudah bersyukurkah kalau bisa kuliah atau sekarang sudah bekerja? Tengoklah Wildan, dia sedang di masa-masa sangat sulit ketika berhadapan dengan prestasi yang tinggi tapi didera dengan keadaan ekonomi, penyedia pendidikan yang buta dan tujuan UN yang semakin lama semakin kabur terhadap tujuannya sendiri.

Ketika ngobrol tentang masalah ini dengan tetangga sebelah, dia malah bilang begini “Ahh Kuliah tinggi-tinggi juga ngga ngefek kok. Cuma buang-buang uang saja. Saya aja ngga kuliah juga bisa kerja dan menghidupi anak istri tuh!”

Saya jawab, mungkin anda ngga pernah merasa jadi orang berprestasi, coba deh kalau anda melakukan prestasi yang begitu berguna bagi perusahaan dimana anda bekerja tapi malah hasil pekerjaan anda tidak dihargai atau anda malah dipecat! Bagaimana perasaan anda?! Pastinya lebih sakit daripada sakit gigi bukan??

Incoming search terms:

  • ulasan ujian nasional
  • realita un saat ini
  • wawancara mengenai ujian nasional
  • alasan pentingnya ujian nasional
  • ujian nasional diberhentikan dilihat dari segi ekonomi
  • ulasan tentang pendidika
  • ulasan tentang ujian
  • ulasan tentang ujian nasional
  • ulasan tentang un
  • wawancara murid mengenai ujian nasional

9 Comments

  1. Agus Siswoyo

    Pendidikan adalah masalah yang kompleks. Pemecahan masalah tidak bisa dilihat dari satu aspek. Banyak fakta di lapangan bahwa strata ekonomi, kultur dan lingkungan tempat tinggal sangat mempengaruhi kelanjutan edukasi seseorang.
    .-= Agus Siswoyo´s last blog ..Pengumunan Pemenang Kontes Menulis =-.

    ← Reply

    • Andre

      @Agus Siswoyo, Dengan begitu grade pendidikan di Indonesia juga semakin jauh dari kata kemajuan.
      Yang dari golongan bawah susah payah belajar tapi tidak diapresiasi dengan baik,, eh yang kaya raya malah menjadikan pendidikan hanya sebuah formalitas dan main-main. Itu karena pendidikan di Indonesia bersifat “Dapat Dibeli”

      ← Reply

  2. Surya Triwijaya

    Saya setuju mas, sepertinya pendidikan cuma dikhususkan buat orang kaya aja.. Apalagi ada jalur swadana buat masuk Ke Perguruan Tinggi, dengan syarat mudah saja, yang berani ngasih “Sumbangan” paling tinggi, ya dia itu yang ketrima.. “Mudah” sih, bagi orKay.. tragis emg.. Bodoh tapi kaya, atau pintar tapi miskin?
    .-= Surya Triwijaya´s last blog ..10 Plugins WordPress Wajib Install =-.

    ← Reply

    • Andre

      Swadana adalah produk investasi perguruan tinggi. Dananya sangat tinggi dan mencekik. Sistem ini seperti lelang ikan ya mas, siapa yang ngebid tertinggi, itulah yang dapet kursi.. Ngga peduli mau pinter apa ngga, yang penting duit..duit..dan duit..

      ← Reply

  3. aas maesyanurdin

    terlepas dari kekisruhan di dalam UAN sekarang ini, pemerintah dan masyarakat sama2 punya peran dalam mencerdaskan anak bangsa tidak hanya melalui pendidikan formal.
    Ijasah nilainya makin lama makin menurun, karena yang paling dibutuhkan sekarang dan ke depan adalah kompetensi dan entreupreneurship. Alangkah baiknya pendidikan informal lebih ditingkatkan khususnya di bidang entrepreneurship dan kompetensi tertentu yang selaras dengan perkembangan dunia usaha.
    .-= aas maesyanurdin´s last blog ..Tuning Radio Kita =-.

    ← Reply

    • Andre

      Sebenarnya sekolah jaman sekarang sudah berani menyisipkan pendidikan informal, pak.
      Namun siswa seperti Wildan kan sayang tuh kalo harus stop tidak kuliah, apalagi dia bercita-cita jadi dokter dan berpotensi. Mau tidak mau harus menempuh pendidikan formal..
      Tapi benar kata pak Aas, memang harus diseimbangkan antara pendidikan formal maupun pendidikan informal yang banyak diambil dari kehidupan nyata.

      ← Reply

  4. Blog Inspirasi

    sebuah kritik yang perlu diperhatikan pemerintah…
    daripada menghabiskan trilyunan hanya untuk renovasi gedung, bukankah lebih baik uang negara digunakan untuk memajukan pendidikan :)
    .-= Blog Inspirasi´s last blog ..Monyet yang tidak bisa memanjat =-.

    ← Reply

    • Andre

      @Blog Inspirasi, Gedung ngga,, pendidikan juga ngga.. Masuknya ke kantong koruptor malah iya..hehe :hammer

      ← Reply

Leave a Reply

*