Masalah sudut pandang. Setiap orang mempunyai sudut pandang. Terwakili dengan pro kontra yang dibumbui alasan mengapa mendukung dan mengapa bertentangan. Kalau bicara rasa, namanya ngga suka ya ngga suka. Titik! Simak dulu penjabaran saya berikut ini:
Buku tebal dan buku tipis.
Pasti pernah donk baca buku? Buku tebal identik dengan bukunya orang pintar, dan buku tipis identik dengan bukunya orang yang malas baca. Ya,, itu anggapan soal umum. (jangan disangkal dulu, baca sampai habis!) Ini adalah anggapan yang menjadi mindset kebanyakan orang untuk menilai buku. Oke, saya mau tanya kepada anda. Pernah baca / minimal tau novelnya Harry Potter kan?? Bukunya tebal atau tipis? Ke toko buku, bukunya jadi best seller atau ngga? Bukunya gambarnya banyak? Jawab sendiri yaa… Sama pertanyaannya dengan buku seri pengembangan dirinya si Stephen R Covey. Buku itu tebal semua! Gambarnya sedikit! Tuh udah saya kasih 2 jawaban dari 4 pertanyaan.
Buku-buku tersebut adalah contoh buku tebal yang laris karena pembacanya menilai buku itu bagus dan layak untuk dibaca. Mereka yang tidak mempermasalahkan tebal tipisnya buku akan mendapat keuntungan:
- Dapat pelajaran dari buku yang dia beli/pinjam tersebut.
- Mereka punya tantangan untuk melahap isi dari buku tersebut. (terMotivasi karena bukunya mahal!)
- Meningkatkan kemampuan membaca, banyak baca maka banyak tau.
- Yang paling penting, mereka jadi tau mengapa buku itu laris!
Berbeda dengan yang mempermasalahkan tebal dan tipisnya buku.
- Tidak akan pernah mengambil keuntungan dari buku tersebut. Paling puoll tau dari orang yang pernah mbaca buku itu. Itupun tidak semua.
- Mempermasalahkan apa yang tidak seharusnya dipermasalahkan. Yang terpenting itu kan “buku itu bagus apa ngga” bukan buku itu tipis atau tebal.
- Menjadi tren setter “Menghakimi Buku dari Tebal Tipisnya” karena bukan jamannya lagi “Menghakimi Buku dari Covernya”. Ini tren yang sama-sama gilanya!
- Kebalikan dengan alasan diatas, dia ngga pernah tau mengapa buku itu menjadi laris.
Sekarang kita lihat dari sisi penulis buku tebal tadi, si penulis seperti Covey tidak akan menulis buku itu secara singkat karena hanya ingin mengincar pasar yang suka dengan buku tipis, tapi terlebih dia ingin menjabarkan seluruh isi pikirannya beserta alasan, studi kasus, atau penggambaran-penggambaran lainnya. Covey tidak ingin bukunya hanya berupa argumen-argumen yang tidak beralasan atau HOAX! Salah-salah, malah Covey bisa dianggap penipu atau Om-Do. Dengan begini kredibilitas si penulis bisa terjaga. Dan yang terpenting adalah terkesan bahwa Covey tidak asal-asalan menulis buku itu.
Tidak berhenti pada tebal tipisnya buku, panjang singkatnya artikel dalam blog. Tapi bahasa penyampaian yang ringan dan berat. Anda juga mempermasalahkannya?? Simak ini.
Masih dengan contoh yang sama diatas. Segmentasi pembaca yang membaca buku diatas adalah semua kalangan. Tidak terbatas, umum, dan multi background. Artinya, tidak ada pengkotak-kotakan pasaran buku tersebut. Anybody can read this book. Kedua buku tersebut adalah buku yang mempunyai gaya bahasa formal, teratur, dan kaku. Bisa laris, kenapa? Karena yang membaca buku itu tidak mempermasalahkan bahasanya, bahasa itu bukan masalah besar!
Bahasa itu bisa dipahami kalau kita mau. Bahasa itu dapat dicerna. Bahasa Inggris itu susah, tapi bisa dipelajari. Get the point!
J.K Rowling, penulis besar dengan karya best seller. Gaya penyampaiannya merakyat? Tidak! Gaya bahasa versi novel sangat formal. Gaya penyampaian visual/film sangat familiar (karena sudah ada teks dengan bahasa kita). Namun pada kenyataannya, banyak yang bilang “Versi novelnya lebih nendang!”. Ini berlaku juga di film Avatar.
Saya kembalikan ke tema blog, banyak blog yang terlalu saklut pada menulis singkat dan ideal dengan penulisan tidak lebih dari beberapa karakter. Okelah kalo itu sudah mewakili seluruh topik yang diangkat, tapi kalau mengambang? Jangan salahkan kalau ada anggapan kalau tulisan itu dangkal dan tidak berbobot. Menarik karena kita tidak usah bersusah-susah mencernanya, tetapi tidak menantang pembaca untuk menyelami lebih dalam arti tulisan itu sebenarnya.
Hey!!! Kita ngga harus selalu menuntut penulis untuk tunduk terhadap kriteria gaya bahasa favorit kita! Penulis punya hak untuk menyampaikan tulisan lewat gaya bahasa yang dimilikinya! Hargai mereka, karena mereka juga menghargai kita sebagai pembaca dengan menyuguhkan informasi, cerita, aspirasi yang detil, tidak sepatah-sepatah. Dia sudah berusaha total!
Saya meradang dengan aturan-aturan konvesional yang mempermasalahkan tulisan yang singkat dan ideal! Ini BLOG, bukan IKLAN (Singkat tapi banyak tulisan yang disembunyikan dengan alibi “SYARAT dan KETENTUAN BERLAKU! Sama juga boong!)
Saya menghargai penulis di blog dengan apapun gaya penyampaiannya, dia berusaha untuk menyampaikan, saya berusaha mengerti dan mengapresiasi! Menempatkan sudut pandang yang benar dalam isi dari tulisan para blogger jauh lebiiiihhh penting dari pada dari sudut pandang yang “bermasalah” dengan gaya bahasa dan kemasan panjang singkatnya.
Are you the trouble minded reader??
Salam.
Ulasan anda sangat komprehensif dan sangat layak untuk dikatakan berbobot. Plus tidak dangkal. Saya setuju 100 persen Bung.
Perkara panjang-pendek artikel blog, sebenarnya yang paling baik ialah berusaha menulis secara padat berisi. Pendek kalau dangkal atau tidak ada isinya sama juga bohong. Ini masih sering saya temukan pada beberapa blog yang saya kunjungi. Dengan tidak bermaksud meremehkan kemampuan penulisnya sih. Namun mereka saya lihat cenderung berupaya “mengalah” dengan selera sebagian pengunjung yang kurang suka dengan tulisan panjang.
Ini kurang bagus sebenarnya. Sebaiknya bebaskan saja diri kita untuk menulis sepanjang yang kita mau. Sebab yang paling penting bagaimana tulisan kita bisa lengkap dan tidak mengambang. Berkaitan dengan ini, membeberkan data/fakta pendukung dan atau argumen penjelas (di samping argumen utama atau gagasan utama) menjadi cukup penting. Semua dimaksudkan demi menajamkan tulisan kita.
Pendek tapi terkesan kurang tuntas dan terlalu normatif juga kurang baik.
Namun ada satu hal juga yang harus kita perhatikan sebagai penulis blog yang punya kecenderungan suka menulis agak panjang. Apa itu? Bacalah berulangkali tulisan yang sudah dihasilkan. Jangan segan untuk mencoret beberapa kata atau kalimat yang kurang mendukung konteks tulisan. Ini memang perlu latihan (untuk membedakan mana gagasan yang penting dan kurang begitu penting).
Hal lain yang harus diperhatikan : upayakan mengemas tulisan panjang agar tidak terkesan monoton atau terlalu melelahkan untuk dibaca secara tuntas. Kita bisa gunakan sub judul, bullet, numbering, pemecahan menjadi beberapa sub gagasan, blockquote, variasi paragraf panjang dan pendek, dsb.
Mengenai gaya bahasa :
Jika niat kita untuk berbagi manfaat buat pembaca, menurut saya sudah selayaknya kita berusaha semaksimal mungkin agar pembaca yang kita tuju bisa dengan mudah memahami tulisan kita. Semuanya agar lebih banyak segmen pembaca yang bisa menarik manfaat dari tulisan kita. Dan kemudian mengaplikasikan inspirasi yang mereka peroleh dari tulisan kita tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Namun jika segmen yang ingin kita tujukan terbatas, saya rasa tidak ada masalah dengan gaya bahasa “berat”.
Maaf kalau komentar saya ini terlalu panjang atau terkesan menggurui. Saya cuma berusaha memperkaya ulasan di atas Mas. Intinya saya sangat setuju dengan pendapat anda.
Salam kenal ya.
[Reply]
andre Reply:
March 11th, 2010 at 5:26 am
Mantab’s mas komennya, saling memperkaya isi dari artikel saya..
Yang saya tangkap adalah, kadang penulis “menyerah terhadap selera pembaca” dan ini sangat menutupi kebebasan para penulis. Penulis menjadi orang lain karena tuntutan si pengunjung. Saling memahami antara pembaca dan penulis mungkin harus ditingkatkan supaya sama-sama mendapat hasil yang berimbang…
Thanks mas buat atensinya terhadap blog saya.
Salam kenal juga, bung.. :shakehand2
[Reply]
Agus Siswoyo Reply:
March 11th, 2010 at 8:33 pm
Ini komentar apa nulis artikel ya? Panjang amat mas. Nggak mau kalah sama yg punya rumah…
:hammer
.-= Agus Siswoyo´s last blog ..Maaf, Anda Salah Jalur. Silakan Putar Balik Setelah Rambu Berikutnya. =-.
[Reply]
iskandaria Reply:
March 12th, 2010 at 11:31 am
@ Agus Siswoyo
Maklum mas, saya semangat sekali kalo ngomentarin artikel tentang menulis dan blogging. Jadi suka nggak nyadar kalo sebenernya lagi nulis komentar (bukan nulis artikel) :hammer
[Reply]
Andre Reply:
March 12th, 2010 at 12:21 pm
Semangat nulis, semangat baca, dan semangat komentar,,Mantab’s Gan!
.-= Andre´s last blog ..Tulisan Panjang, Tulisan Pendek. Apa Masalahmu?! =-.
[Reply]
waw, nais posting Mas…
kalo saya nggak mempermasalahkan panjang pendeknya tulisan, yang penting isinya menarik dan bahasanya mengalir (sungai kale).
bagi saya, tulisan yang pendek kalo lebih bagus kenapa harus panjang, begitupun sebaliknya.
sukses Mas Andre.
[Reply]
andre Reply:
March 11th, 2010 at 5:33 am
Karena menulis itu tidak mudah juga, maka si pembaca mungkin harus sedikit dipaksa untuk membaca mas. Jangan melulu si pembaca kita tempatkan sebagai yang tertinggi. Kebebasan si penulis juga harus diperhatikan.. Bukan begitu..hehe
Sukses juga, mas Yons… :beer:
[Reply]
nice mas..
panjang pendeknya tulisan memang kadang mempengaruhi pembaca. yang baik untuk tulisan pendek adalah, singkat, padat dan jelas..
jika tulisan panjang, kita juga harus pintar” agar pembaca tidak bosan dengan tulisan panjang kita..
salam kenal mas. :nerd
.-= First Ryan´s last blog ..Pentingnya PageRank bagi Blogger =-.
[Reply]
andre Reply:
March 12th, 2010 at 4:37 am
Nulis panjang juga harus pinter-pinter membuat variasi.. biar ngga monoton dan menimbulkan kebosanan…
Salam kenal juga mas Ryan.. :beer:
[Reply]
kalau disuruh milih, saya milih yang mana saja. So, karena semua bukan tergantung panjang pendeknya sebuah kalimat dan cerita di dalam sebuah buku. tapi ditekankan pada materi apa yang di sajikan. jika materi yang di sajikan itu menarik menurut saya, tebal pun tak jadi masalah, tipis juga OK. tapi kalau topicnya saja saya gak suka, gak paham, tebal atau tipis saya tolak. ya mau bagaimana, baca juga gak nyaman nantinya. jadi intinya soal rasa? yups, soal rasa. hanya itu. hehehe.
[Reply]
andre Reply:
March 12th, 2010 at 8:05 pm
Soal rasa lidah emang ngga bisa boong..hehe :hammer
Iya mas, yang penting materi apa yang disajikan dan kelengkapan pembangun materi itu sendiri, kalo materi’nya OK tapi ngga didukung materi pelengkap lainnya kadang2 malah dibilang mengambang.. Atau yang lebih parah lagi bisa disebut Gosip semata.. :rolleyes:
[Reply]
Saya datang dari blognya Mas Iskandaria. Saya pun tidak keberatan dengan panjang pendek tulisan. Tapi jika terasa terlalu banyak basa basi dan intinya mudah ditebak, saya akan fast reading dan scanning saja.
Terkait tulisan di atas, kuotasinya memang kutipan atau hanya memberi gaya penampilan yang berbeda saja?
Terkait:
kenapa harus meradang? Toh mereka mungkin punya alasan tersendiri dan cita rasa ‘ideal’ yang cukup masuk akal, setidaknya menurut sudut pandang mereka.
[Reply]
andre Reply:
March 12th, 2010 at 7:57 pm
Selamat datang dulu deh, Mas Dani…
Kuotasi ngga hanya untuk cuplikan kan mas?? Untuk penekanan atau penggambaran juga bisa kok.. Coba lihat di tulisannya mas Iskandaria yang “Apa fungsi penggunaan blockquote?”
Meradang dalam artian hiperbola lho,, untuk membedakan beda kalo ini blog, bukan iklan dan bukan test yang penuh dengan aturan.. Kadang penulis dipaksa menyerah dengan cita rasa pembaca sehingga kalo menulis rada panjang jadi ngga nyaman.
Saya hanya memaparkan kalo pengunjung dan penulis itu mempunyai kehormatan yang sama untuk mengapresiasikan dirinya lewat tulisan tanpa batasan apapun.. :beer:
[Reply]
iskandaria Reply:
March 13th, 2010 at 7:55 am
Saya tidak bermasalah dengan istilah “meradang”. Kayaknya emang cuma hiperbola ya Mas. So, lanjut aja Gan.
Namun untuk penggunaan blockquote, mungkin sebaiknya isinya nggak terlalu panjang yach. Alias cuma digunakan untuk menegaskan paragraf/poin tertentu aja. Tapi saya masih cukup nyaman kok dengan penggunaan kuotasi di atas (Sebab fungsinya untuk membedakan antara ulasan dan contoh kasus).
[Reply]
dani Reply:
March 13th, 2010 at 6:29 pm
Ah ya..saya lupa menyinggung tentang blockquote itu di blognya Mas Iskandaria.
Sependek yang saya baca, sumbernya dari W3C dan pakar semantik brainstormsandraves dot com, kata kuncinya: blockquote + semantic.
Tentang cara Mbak Nunik isnuansa dot com menjawab reply komentar dengan memakai sitasi/kuotasi padahal tidak sedang mengutip juga pernah saya diskusikan dengan beliau di tulisan saya dulu.
Jadi, sependek yang saya pahami, mohon saya dikoreksi, dari sisi semantik Web, elemen blockquote dipakai untuk sitasi/kuotasi beberapa kalimat dan elemen q untuk sitasi/kuotasi satu kalimat. Sehingga oleh peramban Web, fitur standar Web ini disajikan sebagai blok konten yang menjorok ke tengah. Bukan untuk sekadar mengetengahkan suatu blok paragraf.
Pun bagi algoritma mesin telusur Internet, konten di dalam sitasi/kuotasi, teorinya tidak akan dianggap duplikasi. cmiiw
Ok saya paham tentang meradangnya itu. Untung tidak perlu antibiotika.
.-= dani´s last blog ..e-Patient Participation on the Web =-.
[Reply]
andre Reply:
March 16th, 2010 at 8:05 pm
Wah malah saya dapat info nih…
Tapi untuk teori dan prakteknya saya kira itu tergantung kebutuhan penulis. Yang penting penulis tau dimana penekanan-penekanan itu diberikan..
Wakaka… Antibiotika mahal mas.. :ngakak
[Reply]