Pak Menteri, Aku Ingin Bicara
Menonton siaran berita di televisi selama seminggu ini, headline utamanya adalah prediksi dan nominasi Menteri kabinet yang akan menjabat di pemerintahan tahun 2009-2014. Banyak nama bermunculan, berbagai profesi dan latar belakang, ada tua ada muda, ada muka lama dan ada pula “New Comer’s” atau pendatang baru. Banyak nama bermunculan, kinerja dan track recordnya di angkat oleh presenter siaran berita sembari membandingkan antara kinerja dan posisi yang sudah diprekdisikan.
Pertanyaan klasik yang muncul di benak saya, saudara atau mungkin seluruh rakyat Indonesia yang tergolong kaum “Kawula Alit” adalah, “Ntar kalo udah jadi Menteri akankah bapak/ibu menteri masih mau mengingat dan peduli pada kami?”. Mengingat akan kami yang kesusahan, mengingat akan kami yang butuh pekerjaan dan kehidupan yang layak, mengingat korban bencana yang masih merana di tenda-tenda darurat, mengingat akan mahalnya biaya pendidikan, masihkah peduli akan kebudayaan dan territorial bangsa yang masih di obok-obok oleh negara tetangga, masihkah peduli dengan TKI yang dianiaya, dan masihkah anda mengingat dan mau peduli dengan semua aspek kehidupan di Negeri ini, termasuk citra korupsi yang belum kunjung sembuh?? “Masihkah kau mencintaiku, Menteri?”.
Atau pak menteri bangga kalau saya tanya, “Pak, gaji yang begitu menggiurkan mau dipakai untuk apa saja?”; “Mau pakai mobil dinas untuk kemana saja?”; ATAU “Ntar kalo udah ngga jadi menteri mau dipenjara atau tidak? Kalo dipenjara, pastinya ingin kamar yang VIP dong?”
Lagi Ingin iseng-iseng bicara soal politik.. ~.~