Sepakbola Masih Punya Manusia Kok
Barusan nonton #Ger vs #Eng di babak 16 besar putaran final Piala Dunia 2010 South Africa. Di tengah pertandingan, ada satu gol pemain Inggris yang di anulir wasit. Sontak di timeline @andreansaputro bermunculan tweet wasit tidak adil, wasit goblok, wasit buta dan olok-olokan lainnya.
Ini wajar bukan??? Iya, ini wajar dalam sepakbola. Tapi yang ngga wajar adalah penyulut olok-olokan tadi. “Menurut camera pengintai, itu harusnya goal lho!”. Disinilah peran wasit sudah berubah menjadi kambing hitam dari teknologi. Seolah-olah teknologilah yang paling berkuasa dalam pertandingan.
Munculah istilah baru, “memanusiakan” sepakbola! Titik masalahnya sih masih berkutat pada penggunaan teknologi. Mereka, kaum moralis yang mau memanusiakan tadi, inginnya meniadakan penggunaan teknologi untuk sepakbola dan berwacana supaya wasit di tambah menjadi 5 biji untuk setiap pertandingan. Biar adil, biar fair, biar lebih manusia!!
Tapi perlu diingat, dengan men cap wasit tidak becus dan meniadakan teknologi untuk memanusiakan itu saja sudah tidak adil! Kenapa? Karena segala bentuk teknologi itu juga tidak akan mengubah keputusan yang di ambil wasit di tengah pertandingan kok.
And its no fair yet! Wasit juga manusia, wasit juga punya khilaf dan hanya beda sedikit dengan Ariel; jika wasit khilaf dan tidak enak karena di protes. Ariel khilaf tapi sudah merasakan enak walaupun sama-sama di protes.
Jadi wacana meniadakan teknologi supaya memanusiakan sepakbola itu tidak penting, dan hanya menjadikan kita seperti orang munafik saja pada dunia jaman sekarang. Selamanya teknologi itu tidak akan pernah bisa membinasakan manusia, dan selamanya pula manusia itu tidak luput dari khilaf dan dosa.
Sekian dulu khotbah Piala Dunia dari saya, saya sambung lagi di A.S.A.P.

