@linimas(s)a: Tentang Penggunaan Internet Bangsa Ini

Crossposting dari tulisan saya di blogdetik, Jum’at 18 Maret 2010

“Coba kamu cari jalan Totosari, Laweyan lewat Google Maps. Kalau ketemu, tolong kasih screenshoot berserta petunjuk jalannya (Jw. ancer-ancer) dan kirim lewat email”, ujar paman saya yang tinggal di Jogja kepada saya yang tinggal di Solo. Kebetulan lokasi yang dicari memang tidak jauh dari rumah saya.

Tidak hanya sekali-dua kali paman saya menyuruh saya untuk memberi petunjuk jalan dengan bantuan internet dan menggunakan Google Maps yang digunakan untuk peta navigasi petunjuk jalan. Dari proses penyampaian informasi, baik menyuruh atau memberikan apa yang disuruhnya juga melalui internet, dari messenger untuk chatting dan email untuk menyampaikan peta serta petunjuk jalan.

linimassa11

Hal ini juga saya temui ketika melihat dokufilm @linimas(s)a yang terdapat banyak bagian yang menyoroti penggunaan internet di Indonesia. Bukan hanya paman saya yang berumur lebih dari 40 tahun dan menggunakan internet untuk mendapatkan informasi atau menemukan solusi untuk mengatasi masalahnya. Untuk belajar menggunakan internet secara maksimal mungkin sulit, namun untuk membuka diri dan ada sikap untuk “want to know” tentang penggunaan internet pasti berbeda. Minimal, dia tahu Google Maps dan menyuruh saya untuk menemukan lokasi yang di inginkan.

Ini juga yang dilakukan Blassius Haryadi (Harry van Jogja), tukang becak yang sudah tak lagi muda namun bisa menggunakan Facebook sebagai media untuk berpromosi kepada calon tunggangannya. Berarti, dia masih mau belajar dan mampu membagi waktu di tengah pekerjaan sebagai tukang becak dan membesarkan anak-anaknya. Jika kita melihat orang seumuran dengan pak Harry, mungkin memiliki alasan yang seragam, tidak sempat masih banyak sesuatu yang harus dilakukan (apalagi ibu-ibu rumah tangga :) )

Mengenai ibu-ibu yang tidak lagi mempunyai waktu untuk sekedar mengenali dunia internet, di dokufilm linimas(s)a ini juga terdapat nama Valensia Mieke Randa, yang menggunakan teknologi internet, dalam hal ini sosial media untuk sesuatu yang bermanfaat untuk orang banyak. Dia adalah inisiator Blood For Life (#BFL), suatu gerakan yang memberikan segala informasi tentang kebutuhan darah (donor). Informasi disebarkan lewat jejaring sosial, baik via Twitter atau broadcast message BBM. Mungkin hanya sekedar retweet atau BM namun, “…hal-hal kecil yang kita lakukan bisa berarti sebuah nyawa buat orang lain”, kata Valensia.

Banyak hal yang bisa diinisiasi dari penggunaan internet. Termasuk dalam soal hukum dan politik, Koin Prita, Kasus Bibit-Chandra (Gerakan 1 juta Facebooker).

Juga dalam aksi penanganan bencana yang bisa mengakomodir relawan, bantuan, info terkini sampai penggalangan dana dan radio streaming dari post pantau merapi dan bisa didengarkan oleh orang banyak. Penggunaan internet untuk penanganan bencana seperti ini dilakukan oleh Jalin Merapi, yang saat Merapi meletus, akun twitternya @jalinmerapi terus-menerus menyampaikan informasi terkini di sana. Karena terapresiasi oleh kinerja Jalin Merapi dalam menggunakan sosial media, saya menulis tulisan ini beberapa hari setelah Merapi meletus, Letusan Merapi 2.0

Masih banyak hal-hal lain yang terdapat di film ini, terutama percakapan-percakapan cerdas tentang internet di Indonesia. Silakan lihat teaser videonya di http://kalamkata.org/2011/02/20/linimassa-program-film-dokumenter/

Banyak hal yang bisa dilakukan dengan internet, apalagi bangsa ini mempunyai sumber daya pemakai internet yang sangat tinggi. Jika masing-masing bisa mengoptimalkan secara baik. Alangkah dahsyatnya perubahan yang bisa dilakukan bangsa ini!

“Kita melihat bahwa kalau internet ini digunakan dengan benar. Dengan dioptimalkan se positif mungkin. Itu manfaatnya akan sangat luar biasa bahkan untuk melakukan perubahan sosial. Untuk melakukan gerakan-gerakan untuk arah yang lebih baik” — Donny BU, produser dokufilm linimas(s)a dan Ketua ICT Watch.

Cerita berlanjut di Pertunjukan dan Diskusi #3GMerapi

UberHitler: Nasehat Hitler Untuk Uber Twitter

Hari ini, Sabtu 19 Feb 2011, Twitter lagi gaduh dengan pemblokiran apps Uber Twitter oleh Twitter. Saya kebetulan sudah tahu berita ini pada Sabtu dini hari lewat postingan di Mashable.Com.

Seharian itu crowded, beberapa kata di trending topic juga bertengger isu seputar itu. Setidaknya ada empat trending topic, mereka adalah #ubertwitter, Uber Twitter, UberSocial, SocialScope.

Saya ngga akan membahas Uber Twitter yang di blokir. Karena saya bukan pengguna aplikasi itu. Di sini saya akan attach video Hitler Ngamuk saja, karena ada percakapan tokoh hitler yang mampu dijadikan refleksi social media dan perilaku orang Indonesia terhadap Twitter.

Saya menemukan beberapa kata-kata Hitler yang lumayan #jleb untuk para jagoan-jagoan Twitter yang bertebaran di Indonesia raya ini. :D

  • “Twitter statistik bapak (Hitler) semakin hari semakin bagus… Sejak enam bulan terakhir, followers bertambah 200%. Skor Tweetlevel.com bapak sudah 90, dengan 90% popularity serta 94% influence. Jadi sekarang bapak bisa menyandang gelar Seleb Twit.”

Kelakuan para seleb twit pasti sibuk mengecek berapa jumlah followernya, pamer follower baru dan positioningnya dalam dunia kicauan. Sampai-sampai tahu betul status apa yang diperbuatnya dan ramai di RT (ReTweet) followernya. Sebegitunya… :D

  • “Kalian ini gimana?! Ngaku-ngaku socmed expert militer tapi kok ganti app aja bingung! Kan tinggal donlot aja aplikasi yang bisa Twitteran, toh semua sama saja!!! Tinggal pilih kan SocialScope, Twitter for BB, Seesmic dll”

Banyak yang mengaku socmed expert atau ahli social media, namun tampak bodoh ketika UT di block dan mungkin tidak bisa twitteran dengan app lain, padahal kan sama saja. Entah manja atau tidak menginstall bisa aplikasi lain di BB-nya. Arogan betul ya? :D

  • “Gue rasa di Indonesia bukan banyak melek digital. Tapi latah digital! Uber Twitter di blokir aja langsung jadi berita utama sampe masuk TV!”

ini mirip dengan status @yonan32

  • “Insiden UT ini bikin gue makin yakin, Blackberry itu bukan bikin orang sini melek digital, tapi sekedar latah digital.”

Latah…wekekek. #Jleb! Sepertinya kita menguntungkan media nih, mereka kurang berita, kelatahan kita malah di jadiin berita oleh mereka. Pencetak trending topic kan udah biasa, tapi ya itu, ngga malu apa sebegitu hebohnya isu ini sampai media juga ikut mengekspose. Mending nonton SM*SH donk yes.. :D

  • “Dah keliatan jelas kan kalo semuanya emang hidupnya di Twitter doank. Gak bisa make UT aja kaya diputusin pacarnya!”

Desperate kelatahan teknologi. Mutlak! Ini yang sedang terjadi di sini. Saya juga begitu kok. Ngga bisa twitteran sehari juga suka desperate. Tapi bukan karena Uber Twitternya, app saya memakai Gravity namun saya juga tidak keberatan jika nantinya Gravity juga ikut-ikutan di blokir, tenang saja masih ada iPress yang bermesin dabr. Kalau tidak ya pakai versi web-nya. Sama aja sih. Tinggal gengsi apa nggak memakai yang bukan UT. UT kan keren, bisanya di smartphone doank kan yes? :) )

  • Perwira: “Tapi pak, tanpa Uber Twitter, kita susah untuk ngobrol di RT”
  • Hitler: “Ya justru itu bagus, Goblok! Supaya orang kayak elo gak nyampah di timeline”
  • Perwira: “Tapi kan supaya kita eksis, Pak. Apalagi pujian, wajib RT!”
  • Hitler: “Sekalian aja ngeblog di Twitter pake tweetlonger sampe panjang banget kaya ABG2 itu!

Wahihihi… ini dia penyakitnya. Timeline yang rapih itu sebenarnya enak dilihat dan dinikmati. Tapi seleb twit mah kagak bisa tuh ngertiin. Ngobrol di RT, kehabisan karakter juga no problem, bisa pake tl.gd, tmi.me dan segala macam pemanjang. Padahal reply saja sudah disediakan, tapi untuk personal branding *ngakak dulu* ini wajib RT. Iya donk, namanya saja seleb, yang penting kan pencitraan.

Benar kata Hitler, kalo mau ngeblog di twitter sah-sah saja sih. Ngga perlu kultwit dari 1 sampai berbusa-busa. Terusin saja, follower tinggal klik link pemanjang tadi terus baca. Dari pada seiprit-seiprit.

Ini juga loh yang menyebabkan Uber Twitter di blokir. App dari UberMedia ini sudah menyalahi guidline Twitter itu sendiri. Padahal sebagai aplikasi, sudah seharusnya mematuhi-nya. Kalo masalah duit yang masuk ke App itu dan kecemburuan Twitter akan hal itu, ini sih urusan bisnis masing-masing.

Yah, semoga kelatahan ini tidak berlanjut. Biarlah para ABG itu tau apa yang menjadi jatahnya, 140 karakter cukup. Tidak usah maksa, sudah disediakan tombol reply. Kurang, gunakan blog!

Hell yeah!!!

Rangking Dua

Setelah berlama-lama meninggalkan blog ini dan hanya sesekali memantau dashboard untuk melihat apakah ada komentar yang akan dimoderasi, akhirnya saya iseng untuk mengecek apakah Page Rank (PR) blog ini masih 0 (nol)? Karena, saya cek dua bulan yang lalu, PR-nya masih belum dihargai oleh simbah Google, walaupun sudah setahun saya menghidupkan domain andre[dot]web[dot]id ini.

Ternyata eh ternyata, keisengan saya berbuah hasil. Hasil dari prchecker.info tidak lagi nihil melainkan sudah ada tanda seperti ini Check PageRank

Tak tahu kapan pastinya rangking itu diberikan untuk blog ini. Yang penting, dapatnya rangking ini tidak mempengaruhi apapun pada niatan update blog. Jika kebelet ya posting, kalau tidak ya nunggu sampai ada SPBU selanjutnya.

Makasih, Mbah! :D

Video "Mirip" Gayus

Setelah kasus Gayus mencuat ke publik, foto-foto dan lagu plesetan sudah banyak beredar. Namun kali ini saya menemukan video yang memvisualisasikan tokoh Gayus dan di kemas dalam konsep iklan rokok Djarum 76. Yah,, emang itu iklannya Djarum kok..hehe. Ada gula ada semut; ada jin ada permintaan. Gayus…gayus.. :D

Video “Mirip” Gayus

Setelah kasus Gayus mencuat ke publik, foto-foto dan lagu plesetan sudah banyak beredar. Namun kali ini saya menemukan video yang memvisualisasikan tokoh Gayus dan di kemas dalam konsep iklan rokok Djarum 76. Yah,, emang itu iklannya Djarum kok..hehe. Ada gula ada semut; ada jin ada permintaan. Gayus…gayus.. :D

Flintstone 2.0

Sekali laptop atau PC terkoneksi dengan internet, buka browser dan … DHUARRRR! Mau cari informasi apa saja bisa. Apalagi jika kita sowan ke mbah Google, udah, kalau hanya cari artikel How To pasti dicarikan jalan keluarnya.

Kembali posting lagi di blog ini, setelah hampir dua bulan menjadi blogger tekno abal-abal di VirtueMagz.Com. Saya hanya akan curhat kenapa masih banyak orang yang tanya tentang mainan sosial media.

Kemarin saya ditanyai oleh seorang teman di Twitter, “Gimana cara daftar dan memainkan Paper.li, kok bisa mention ke pengguna lain ya? Apa itu Spam?”

Engggg,, saya tidak menjawab pertanyaannya, bukan karena saya tidak tahu Paper.li itu apa. Tapi kok kebangetan amat ya, dia yang seorang blogger juga + sehari minimal dia nge-share postingannya di Twitter dan onlinenya lewat PC, masih saja bertanya bagaimana cara mendaftar Paper.li. Padahal dia sudah dua kali ter-mention dengan saya di Paper.li punya pengguna lain.

Saya nggak akan bicara tentang kemungkinan-kemungkinan yang menyebabkan dia bertanya seperti itu. Yang jelas, dia pasti mempunyai pandangan absurd tentang SIGN UP! Jadi mendaftar saja di kebingungan. #percumaganteng jika membaca tulisan saja sulit!

Minimal jika di sering tersenggol di mention Paper.li dan dia sudah membuka, umumnya dia tau kalo Paper.li itu apa dan halaman Paper.li pasti ada tulisan “Create a paper” untuk mendaftar di akun tersebut. Apakah harus Paper.li mengganti tulisan tersebut dengan kata Sign Up dan setelah dia tetap ngga tau lalu diganti lagi menjadi Daftar?

OMG… Dia akrab dengan Internet, bahkan sehari-hari online. Apakah sulit menanyai mbah Google apa itu Paper.li dan haruskah pengguna yang punya akun Digg, LinkedIn, Koprol dan lain-lain masih bertanya bagaimana cara mendaftar sebuah produk social networking yang lainnya?

Hmm, tidak menyalahkan siapa-siapa, tapi dengan pertanyaan super absurd seperti ini saya hanya bisa mengelus dada rata dan berkata dalam hati, “Hari ini saya diberi pertanyaan oleh Fred Flintstone 2.0!”

Sekian. Saya bukan jagoan, tapi saya tidak pernah malu untuk Google-ing. :p