Jelang Pertandingan INA vs URU: Tiket Pertandingan Untuk Diego Forlan
8 Oktober 2010, timnas sepakbola Indonesia akan menjamu timnas Uruguay. Timnas Indonesia yang masih berkubang di ranking 131 versi FIFA dan “selalu” mempunyai obsesi untuk berlaga di Piala Dunia akan berjuang melawan timnas Uruguay yang di Piala Dunia 2010 kemarin menjadi semi-finalis dan sekarang bercokol di rangking 7 versi FIFA.
Masa transisi dari era kepelatihan Benny Dollo dan sekarang Alfred Riedl, tentunya timnas Indonesia akan memainkan pola yang baru dalam sepakbola yang akan dimainkannya. Tak tahu akan seperti apa, yang jelas, para punggawa Garuda ini harusnya menciptakan perubahan yang berarti. Sebab, timnas Indonesia ini juga memiliki satu “kelucuan”, mau dilatih dari pelatih negara manapun, permainannya tetap sama!
Belum ada prestasi yang bisa dikategorikan memuaskan. Jagoan “Runner Up” adalah satu hal yang menghantui prestasi timnas Indonesia. Padahal jika ingin merajai turnamen, syarat mutlaknya harus juara! Nomer dua akan jadi sangat menyakitkan jika harus dilewati dari awal sampai akhir kompetisi yang berat dan tentunya menyakitkan harapan bangsa ini untuk menjadi yang pertama. Juara!
Setidaknya ada beberapa catatan beberapa pelatih asing yang pernah menangani Indonesia sebelum Alfred Riedl. Tahun 1996-1997. Wullems, mencatatkan namanya sebagai pelatih asing pertama di Indonesia. Pelatih asal Belanda ini mengantarkan Indonesia sebagai finalis Sea Games 1997. Pola yang diusung saat itu adalah pola 3-5-2 corto stretto yang juga lagi “hot” di liga Indonesia saat itu, Primaverra.
Tahun 1999, Indonesia kembali di latih oleh Ivan Venkov Kolev. Pelatih asal Bulgaria ini juga tak memuaskan. Menurut saya, pola permainan timnas Indonesia pada saat ditangani allenatore ini sangat membingungkan. Kadang memainkan 4 gelandang yang tak tahu posisi aslinya, kadang menumpuk 5 gelandang sekaligus dalam polanya. Disini gunung, disana gunung, di tengahnya ada nunung. Pelatih bingung, pemainnya bingung, penontonnya juga bingung!
2004 hingga 2007. Peter Withe, pelatih asal Inggris juga tak membuahkan gelar bagi Indonesia. Lagi-lagi hanya mendapat runner-up.
Sekarang perhatian kita tentunya ke timas dan pelatih baru. Itu umumnya, kita penjamu. Namun lagi-lagi. Bangsa Indonesia sangat memegang teguh ungkapan ini “Tamu adalah RAJA”. Tak bisa sekalipun mengedipkan mata setiap melihat cowok-cowok impor.

Diego Forlan
Naasnya, iklan pertandingan ini yang disiarkan oleh salah satu stasiun televisi swasta secara terang-terangan mengambil pemain Urugay menjadi bintangnya, Diego Forlan. Meskipun tak jadi datang, jika tiket sudah dipesan, tinggal ber-alibi saja, “Masih ada Luiz Suarez”. Media juga mem blow-up habis-habisan tentang timnas Uruguay, mulai dari kedatangan , tempat hotel menginap, latihan (lapangan dan di gym) sampai-sampai melibatkan kamera pengintai a.k.a hidden cam untuk “menguping” pembicaraan antara Panitia Penyelenggara (panpel) dengan salah satu agen pemain dari timnas Uruguay.
Liputan dari kondisi timnas Indonesia malah hanya memakan durasi 1-2 menit. Hanya tersiar pemain absen dan wawancara dari segelintir pemain. Alfred Riedl juga tidak tersorot oleh kamera.
Padahal seharusnya titik berat pertandingan ini adalah performa timnas Indonesia di bawah kepelatihan pelatih asing! Kalau cuma bisa meng hire pelatih asing tapi nihil gelar terus menerus buat apa? Kemana ekspetasi timnas Indonesia terhadap seorang Alfred Riedl?
Jadi sebenarnya kita ini mau lihat Diego Forlan atau Bambang Pamungkas? Melihat wajah ganteng atau ingin melihat performa meningkat dari timnas Indonesia yang tentunya juga ngga ganteng-ganteng amat?
Orang berbondong-bondong ke Senayan ingin melihat wajah bule atau menikmati pertandingan? Ataukah pemain kita akan kalah terlihat dengan bongsornya pemain Uruguay? Namun iklan di pertandingan ini sudah (dengan tidak langsung) menggiring kita ke arah sana. “Di GBK, Diego Forlan main tuh! Buruan beli tiket!” aah! Kamfreeettt!

Tweets that mention Jelang Pertandingan INA vs URU: Tiket Pertandingan Untuk Diego Forlan | Just Another Blogger Boy -- Topsy.com
[...] This post was mentioned on Twitter by genter, Andrean Saputro. Andrean Saputro said: Jelang Pertandingan INA vs URU: Tiket Pertandingan Untuk Diego Forlan: 8 Oktober 2010, timnas sepakbola Indonesia … http://bit.ly/aLWH2q [...]
Perilaku warga Indonesia lebih mementingkan context daripada content. Asal yang main orang bule, mereka berbondong-bondong datang. Seolah melupakan persoalan mendasar yang menghambat sistem persepakbolaan nasional, yaitu mental bisnis para elite PSSI.
Silau akan keberadaan bule tidak ditempatkan pada tempatnya mas. Mereka tak dipandang seperti kompetitor tapi sebagai selebritis.. fiuuh..
Waw Betul ANeh ni Malam Ini dah Pertandingan INA
Ah, daku kalo mau lihat wajah ganteng mah yang lokalan aja, ngapain nunggu Forlan. Nunggu Andre maen di Jakarta aja deh, dijamin bisa bikin #lospokus.
#eaaa
-___-* *tersipu malu…..
Mungkin karena persepakbolaan Indonesia belum memiliki prestasi yang amat mengagumkan. Jadi perhatian orang-orang kita pun terpikat barang impor
Pertanyaannya jadi mudah. Gimana cara membuat orang-orang latah itu kagum akan Indonesia?
iya ya, bener2, baru sadar klo ternyata kmaren timnas nyewa pelatih asing dan malah parah hasilnya.
Naasnya kita kadang pasrah dengan hasil yang parah..
mau add facebook Agus Piranhamas / pembicarainternetmarketing@gmail.com
Wah kok kesannya kayak marketing fesbuk ya komentar anda ini..