Blog & Social Media

Blogger VS Blogger

Kian pelik. Ya, dunia blogging semakin pelik akhir-akhir ini, sejauh yang saya tangkap lewat Twitter. Kelompok Blogger A punya hajat, kelompok B menjadi penyinyir. Begitu pula sebaliknya dan untuk kelompok C, D dan seterusnya. Adu argumen, kasak-kusuk seputar kelompok sampai siapa dibalik layar menghiasi drama blogging di negeri ini.

Sejenak kembali ke masa-masa saat saya mulai nge-blog, tahun 2009. Dimana kerjaan saya hanya menulis, blogwalking, menulis dan blogwalking. Kondisi saat itu, saya masih belum ngeh dengan Twitter. Blogging adalah jaringan yang benar-benar berbagi tulisan tanpa mempedulikan dahulu siapa di balik dashboard blog tersebut. Dalam artian, saya mengenali blog A dan hanya tahu siapa nama pemiliknya. Namun soal “rasa”, saya harus membaca beberapa artikel di blog A tersebut dan mengikutinya secara berkala. Setelah beberapa bulan baru More

Incoming search terms:

  • fenomena sosial media
  • cewek spg ponsel
  • wayang senjata
  • ÜT apakah itu
  • web pnyedia jasa twitteran via pc
  • permasalahan posting blog tulisan gak keliatan
  • peran jalin merapi
  • penyajian tulisan
  • paragraf argumentasi tentang buruknya generasi muda indonesia
  • paragraf argumentasi dengan media apa tepatnya

Akhirnya Saya Menemukan Kesenangan

Jreng! Hari ini saya menulis dua tulisan di blog ini. Tulisan sebelumnya adalah tentang hobi baru-baru saja ini, nyinyir. Ya, menyiyiri logo PERBASI yang tersemat logo DELL. Sudahlah tak usah dibahas lagi, sudah keluar kok unek-uneknya.

Ngomong-ngomong soal hobi, saya sedang menikmati aktivitas mengabadikan yang unik dimata saya dengan kamera ponsel dan kamera poket harga sejutaan yang punya. Tentu saja sebagai makhluk yang bernama blogger, saya wajib mengotori penyimpanan awan yang ada diawang-awang itu dengan hasil bidikan saya.

Dengan sadar, sekarang saya lebih sering bertutur di blog yang saya buat untuk menampung hasil bidikan itu. Dan jarang sekali masuk dashboard blog ini. Kenapa, karena memang saya sedang menikmati dashboard blog sebelah.

Di blog ini waktu awal-awal, setiap bulannya pasti ada saja tulisan yang tersaji. Namun sekarang, More

Incoming search terms:

  • karangan argumentasi 1 lembar HVS
  • cerita pendek tiga paragraf
  • SASHA RAMBUT
  • sasha bagus untuk rambut
  • cantik manis
  • Paragraf yang berunsur ini itu dan tersebut
  • koleksi foto kesenangan
  • kesenangan menulis
  • fungsi kesenangan
  • fungsi kertas hvs

Gerakan Tanpa Wujud

Saya masih bertanya-tanya sampai sekarang, bendera kok divisualisasikan dengan tagar atau hashtag di Twitter. Mengerek bendera tanpa tali tanpa tiang? Saya juga tidak tahu, apakah nantinya saat mengerek bendera tagar itu akan ada nyanyian Indonesia Raya atau tidak.

Isi kepala memang tidak ada yang sama, saat kawan setimeline menyertakan tagar #17an saya tidak. Karena dibalik itu ternyata ada gerakan “rame-rame kerek bendera” yang sampai di alinea kedua ini masih membuat saya kebingungan: Tujuannya apa?

Di website “kerek bendera” itu tertulis,

“Sebuah inisiatif generasi muda Indonesia untuk kerek bendera Merah Putih rame-rame, pertama kalinya secara nasional. Caranya tambahkan tagar #17an di setiap tweet dan bisa via SMS pada tanggal 17 Agustus 2011 mulai dari jam 00:00 hingga jam 23.59″.

Dimana benderanya? Dan jika menyinggung soal kata nasional dan tanggal 17 Agustus adalah hari kemerdekaan bangsa ini, apakah kata secara nasional itu sudah menghimpun seluruh rakyat Indonesia? Atau inikah awal kemerdekaan negara Indonesia bagian Twitter? Dimana Twitter sudah mampu menjaring percakapan untuk Indonesia.

Kalau tagar #17an sudah mencapai 1.781.945, dan menjadi trending topic secara worldwide apa dampaknya buat negara ini? Dilihat dari begitu mudahnya orang berpartisipasi dalam mengerek bendera ini, hanya ngetwit dan sms. Memang benar dalam tweet yang disampaikan bisa berisi ungkapan baik, harapan dan doa untuk bangsa ini, namun tweet yang terhimpun itu apakah sudah mempunyai saluran yang akhirnya diubah menjadi tindakan nyata? Ehm, ini gerakan tanpa wujud yang jelas, ya?

Setelah mencapai puncaknya, siapa yang akan khidmat berhormat terhadap bendera itu? Atau malah berpesta jika tagar #17an sudah mengungguli klasemen trending topic di Twitter. Yang lebih parah, ketika yang ditweetkan hanya bersifat angin lalu.

Saya kuatir, semua elemen bangsa ini akhirnya hanya digaungkan lewat Twitter. Mengukur kadar sukes atau tidaknya pencapaian bangsa ini hanya terukur lewat berbagai tools social media analytic. Saya juga skeptis terhadap siapapun yang menyertakan tagar #17an untuk benar-benar mau jika upacara bendera dilakukan dalam artian yang sebenarnya, posisi badan tegap dan hormat terhadap bendera yang terkerek selama lagu Indonesia Raya dikumandangkan oleh paduan suara upacara.

Sedih sekali rasanya jika bendera bangsa ini hanya divisualisasikan lewat tagar. Apalagi jika nantinya harapan bangsa ini yang disampaikan lewat Twitter dan SMS hanya sekedar isapan jempol belaka, tanpa wujud…

Apa yang telah saya lakukan untuk negara? Jawab jujur, belum ada.

Dirgahayu, bangsaku!


Mohon maaf bagi pembuat kegiatan yang saya singgung di atas. Saya cuma memberi sebuah catatan untuk apa yang saya rasakan, tak lebih. :)

Incoming search terms:

  • gerakan fajar nusantara
  • kata bijak pergerakan
  • kata mutiara pergerakan
  • lagu gerakan fajar nusantara
  • kata kata mutiara gerakan
  • kata2 bijak pergerakan
  • profil gerakan fajar nusantara
  • kerekan tiang bendera melakukan gerak?
  • Kegiatan Gerakan fajar nuswantara
  • kegiatan gerakan fajar nusantara

2 Hari 1 Malam Di Semarang Bersama #XLNetRally

xlnetrallySemarang!! Akhirnya saya mengunjungi ibukota provinsi di mana saya tinggal, Jawa Tengah, setelah hampir sepuluh tahun yang lalu saya pernah di kota ini bersama keluarga. Masih SD dan daya ingat saya tentang kota ini hanya sebatas Simpang Lima, tak lebih.

Kesempatan jalan-jalan kali ini saya dibawa ke Semarang oleh acara XL Network Rally dari XL.

Acara  XL Network Rally sendiri bukan yang pertama kali diadakan, namun saya baru kali ini mengikutinya.  :D Lalu, apa itu XL Network Rally? Ini adalah acara yang mempresentasikan kesiapan XL sebagai provider telekomunikasi dalam menyajikan layanan menjelang arus mudik dan lebaran.

Saya, serta pak Blontankpoer dan Dafhy yang diundang dalam acara XL Network Rally mengawali perjalanan dari basecamp blogger Bengawan (Rumah Blogger Indonesia) untuk kemudian bertolak ke Semarang dengan mobil yang disediakan XL yang beridentitas dengan stiker bertuliskan “XL Network Rally”.

Start dari Solo jam 14.00 dan sampai Semarang (Hotel Gumaya) jam 17.45. Luar biasa lamanya, ini dikarenakan karena rute perjalanan pe-Rally asal Solo memang padat merayap.

Sesampainya di hotel, saya dengan pak Bhe (sapaan pakdhe Blontank) yang sekamar melepas lelah sejenak. Menonton TV sambil tiduran dan pastinya sambil nyruput teh racikan dari pak Bhe yang terkenal mantab itu. :D

Jam 19.30 saya dengan pak Bhe meninggalkan Hotel Gumaya dan meluncur ke Taman Budaya Raden Saleh Semarang (TBRS) untuk mengikuti acara OBSAT dan makan malam. Sampai di TBRS, saya melihat banyak blogger baik seleb, sesepuh atau yang sempat saya dengar namanya via online namun belum sempat bertemu. Seperti biasa, ritual salam menyalamipun terjadi.

Nah! Ini yang membuat perhatian se-TBRS! Dua Polwan cantik yang sering terlihat di layar televisi hadir juga di acara ini. Bukan kebetulan, karena NTMC Polda Metro memang diundang di acara XL Network Rally ini. Siapakah mereka? Tentu saja, Briptu Eka Frestya dan Briptu Avvy! bro…. bening… bro… :) ) More

Incoming search terms:

  • briptu eka
  • Sam Poo Kong Semarang
  • briptu eka frestya facebook
  • polwan briptu eka frestya
  • tragedi lawang sewu
  • gatta chairuddin
  • POLWAN NTMC
  • eka frestya
  • cerita polwan
  • briptu eka frestya

nJepret!sme dan penJepret! Barunya

Sudah taukah Anda apa itu nJepret!sme? Dia adalah blog yang menampung jepretan-jepretan saya lewat ponsel pintar yang ngga smart-smart amat dan kamera poket sejutaan. Anda bisa memperoleh penampakan blog ini dengan mengakses klik nJepret!sme atau jika enggan saya beri gambar tampilannya saja di bawah ini

Screensyur nJepret!sme

Pada hari ini, Selasa 5 Juli 2011 saya memperingati hari kembali hidupnya fungsi kamera ponsel biyasa 2.0 megapixel pabrikan Sony Ericsson. Setelah mati suri selama 6 bulan, tiba-tiba pada siang ini normal kembali. Tanpa bantuan servis center dan mungkin ini hanya kebetulan.

Nah, otomatis ponsel ini langsung menjadi senjata baru terlahir lawas untuk nJepret!sme. Selain ponsel Nokia yang lampu flash dan shutter sound-nya tidak bisa dimatikan maka kehadiran ponsel biayasa ini. buat candid-candid cewek cakep cukup aman lha.. :D

Dan inilah dia “penJepret!” milik nJepret!sme…

ponsel nJepret!sme

Kamera poket sejutaannya mana? Lha ya itu yang buat njepret ponsel nJepret!sme.. :D

Jika dari foto dari Nokia akan berkata semikian, “~terkirim dari ponsel pintar yang ngga smart-smart amat”

dan

jika terambil dari Sony Ericsson akan berstempel demikian “Sent using a Sony Ericsson mobile phone”

Demikianlah perkenalan dengan senjata baru nJepret!sme, gambar yang terambil akan lebih banyak berkata… ~tsaaaah!

Incoming search terms:

  • foto smes
  • njepret
  • foto foto smes

Pertunjukan dan Diskusi di #3GMerapi

“Fenomena sosial media yang harus segera dipotret untuk dijadikan referensi masa depan.” Kata Dhandy Laksono, Produser dokufilm @linimas(s)a di acara #3GMerapi, Jogja, 18 Maret 2010.

Sesaat setelah menuliskan resensi dokufilm @linimas(s)a di @linimas(s)a: Tentang Penggunaan Internet Bangsa Ini, saya bersama teman-teman Komunitas Blogger Bengawan & Yayasan Talenta bertolak ke Jogjakarta, tepatnya di Societet Taman Budaya Jogjakarta untuk mengikuti acara #3GMerapi yang didalamnya ada pemutaran dokufilm @linimas(s)a, diskusi, dan donasi untuk Merapi.

Perempatan Janti

Pukul 17.30 saya sudah sampai di Janti, yang menurut saya jika melakukan perjalanan Solo-Jogja, pertigaan di bawah jalan layang ini adalah penanda bahwa saya sudah masuk kota Jogjakarta. Tak lupa, saya mengabadikan lampu merah di perempatan ini dengan ponsel pintar saya yang tidak smart-smart amat. “Ahh,, sebentar lagi nyampe..”

Akhirnya sampai di TBY tepat pukul 18.00. Seperti biasa, ritual salam menyalami antara blogger yang saling kenal tapi jarang jumpa-pun dilakukan. Hal ini dilakukan untuk menghindari 3D (Datang, Duduk, Dlongap-Dlongop) dan tentunya untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Seperti mencari kamar kecil. :D

Acara pertama yang saya temui di sana adalah penampilan enerjik dari sebuah band lokal yang saya lupa namanya. Namun yang paling saya ingat adalah band tersebut mempunyai videoclip yang lokasi shootingnya di kaki gunung Merapi yang rusak akibat erupsi Merapi 26 Oktober 2010.

Acara berlanjut ke pertunjukan Wayang Kampung Sebelah yang terkenal bisa mengocok perut para penontonnya. Walaupun saya beberapa kali sudah melihat pertunjukan Wayang Kampung Sebelah, namun ketika dalang memainkan lakon pak Lurah, saya masih terpingkal karena dialog dan warna suara yang unik dan suka membuat bingung lawan bicaranya.

Pak Onno W Purbo Tertawa Ketika Melihat Pertunjukan Wayang Kampung Sebelah -- Dok: Bengawan

Wayang Kampung Sebelah untuk sementara waktu menyudahi pertunjukannya dan memberikan waktu untuk pemutaran dokufilm @linimas(s)a. Dalam waktu sekejap, pengunjung acara #3GMerapi yang masih tercecer di sekitaran TBY langsung berebut tempat di dalam ruangan yang sudah diberi tikar dan disediakan big screen untuk menonton dokufilm social media pertama di Indonesia ini. Seperti biasa, lampu diredupkan dan film dimulai.

Sepertinya ada yang salah dengan kaset DVD yang diputar, gambar dan suara yang tampil di bigscreen tersendat-sendat. Namun, setelah diganti dengan kaset yang lain dengan film yang sama tentunya. Film yang berdurasi sekian menit itu lancar jaya dan bisa dinikmati oleh pengunjung #3GMerapi.

Diskusi

Setelah muncul kredit film yang menandakan film sudah habis ditonton, acara 3GMerapi disambung dengan diskusi oleh beberapa narasumber yang ada di dalam dokufilm @linimas(s)a. Siapa saja mereka?

Diskusi #3GMerapi -- Dok: Bengawan

Saya akan menyajikan diskusi #3GMerapi ini dengan format cerita yang saya dengar dari tanya jawab dengan mengemasnya dalam masing-masih narasumber.

Harry van Jogja

Onno selaku moderator memberikan pertanyaan pertama kepada Harry Van Jogja kenapa memilih nama “Van Jogja”? Lalu Harry-pun menjawab karena saya bisa berbahasa Belanda meskipun tidak terlalu fasih.

Harry van Jogja -- Foto diambil dari blog Harry

Pertanyaan dilanjutkan dengan kapan Harry mulai mengenal internet. Menurut penuturan Harry, dia mengenal internet mulai tahun 1999 dan dikenalkan oleh seorang Inggris yang menjadi clientnya saat berkunjung di Jogja. Mulai saat itu, Harry pun mengembangkan cara belajar otodidak dan mulai mengais informasi-informasi yang ada di internet. Harry-pun mengikuti berbagai social media dari saat itu, dari Friendster, Friendster dan lain-lain, termasuk yang saat ini sedang HOT, Twitter.

Dari internet, Harry lalu bisa menemukan metode penggunaan social media (Facebook) yang disinergikan dengan pekerjaannya? Harry menjawab, “saya memang sejak awal tidak mau keluar uang untuk berinternet“. Rupanya moderator dan penonton masih bingung (saya juga bingung..hehe)”. Dia kemudian menjabarkan,  ”Saya ingin tidak keluar uang untuk biaya internetan karena masih punya kebutuhan lain yang lebih membutuhkan uang.” Tidak mau rugi tapi menghasilkan.

Rupanya “prinsip” Harry tokcer untuk menjadikan social media sebagai sarana promosi jasa antar jemput dengan becaknya. calon penunggang becak Harry bisa “memesan” becak Harry dengan media Facebook. Dari situ, Harry yang biasanya hanya mangkal di pangkalan becak dan menunggu penumpang dan kadang berebut dengan tukang becak lain, sekarang dia bisa dipanggil dan jika kosong, Harry bisa segera menjemput dan mengantar penumpang sampai ke tujuan.

Bukan hanya warga Jogja saja yang mempergunakan jasa becak Harry, dia pun sering dapat order untuk menjadi guide setelah dia bersinergi dengan Facebook. Di dalam film @linimas(s)a, Harry juga kedapatan sedang di wawancarai oleh orang Jepang.

“Apakah teman-teman mas Harry juga meniru langkah promosi dengan social media?”, tanya peserta diskusi kepada Harry. Ternyata Harry tidak egois, dia malah membagi dan mengajari teman-temannya cara berinternet mulai dari dasar-dasar internet praktis baik kepada sesama tukang becak ataupun bukan.

Harry juga sedang merintis sebuah paguyuban becak di kota Jogja yang diberi nama Jogja Becak Adventure. Dia membentuk paguyuban ini untuk memperbaiki citra becak Jogja yang dinilai buruk (#barutahu). Dia dengan 2 temannya yang sudah fasih berinternet menggiring paguyuban ini dan mulai mengedukasi tiap-tiap pangkalan becak yang ada di kota Jogja. Karena niat baik ini, Harry dengan paguyubannya mendapatkan dua agen travel dan keanggotaan di paguyuban bisa mendapatkan lisensi untuk menjadi tour guide.

Ngga ngira ya, dari perkenalan dengan dunia online dan keuletan di offline bisa memberikan manfaat untuk orang sepekerjaan. Dan jarang lho, tukang becak itu melek teknologi.

Akhmad Nasir

Sosok dibalik Jalin Merapi yang fenomenal saat menjadi media penanganan bencana, pengakomodir bantuan dan relawan serta menginformasikan setiap saat kondisi Merapi saat erupsi.

Akhmad Nasir

Yang dilakukan Jalin Merapi adalah peran dalam menyambungkan masyarakat Indonesia yang terkenal sangat solider dalam situasi bencana namun terpisah dengan kendala komunikasi yang berbeda-beda. Informasi-informasi yang terdapat dari radio para relawan akhirnya disiarkan secara luas dengan konversi ke beberapa media komunikasi, salah satu diantaranya lewat social media.

Akun twitter @jalinmerapi yang dibuat tanggal 24 Oktober 2010 adalah salah satu media untuk menghimpun dan mempersatukan Indonesia yang ingin mendapat informasi. Akun ini diterima baik oleh pengguna twitter, follower akun ini pada hari ke dua, tepat pada waktu Merapi erupsi, mencapai 5000 dan dua minggu setelahnya, akun ini mempunyai 10000, sampai tulisan ini dibuat, mencapai 35000 follower.

Kekuatan informasi inilah yang membuat radio-radio komunitas dan radio relawan bisa didengar oleh pengguna Blackberry. “Saya sendiri sampai saat ini belum tahu siapa yang membuat aplikasi tersebut.”, kata A. Nasir yang sebelumnya siaran radio ini hanya dapat diakses lewat PC atau laptop.

Menyinggung tentang pemanfaatan teknologi informasi dalam berkomunikasi, ternyata peserta diskusi juga mendapat fakta yang menurut saya tidak mengagetkan. Sebelum social media belum booming, informasi-informasi dikuasai oleh media massa, baik koran, TV atau radio yang selalu memposisikan Pemerintah sudah melakukan penanganan bencana secara baik. Pada kenyataannya itu tidak terjadi. Pemerintah banget, bukan? :D

Sebenarnya kesuksesan Jalin Merapi bukan hanya dari social media. Mereka bisa jadi seperti sekarang tak lepas dari beberapa hal sehingga dari mulai terbentuk pada erupsi Merapi tahun 2006 sampai sekarang Jalin Merapi tetap ada.

Dukungan dari masyarakat bawah. A Nasir mengungkapkan bahwa di lapisan bawah, pedesaan atau yang tidak akrab dengan dunia internet. Informasi pengumpulan bantuan dikomunikasikan dengan speaker Masjid. Di daerah Gunung Kidul, petani yang mengirim bantuan berupa sayur juga di koordinir oleh suara dari speaker masjid. Papar A Nasir, “Pagi mereka ke ladang, sore mereka lewat suara speaker masjid mengemasi bahan-bahan apa saja yang akan dikirim dan selanjutnya dikumpulkan di satu tempat.”

Relawan-relawan muda yang kreatif dan berdedikasi adalah salah satu kekuatan Jalin Merapi. Mereka bekerja tanpa pamrih dan rela mengorbankan apa saja. “Sampai ada yang menjual harta benda untuk biaya pemantauan”, kata A Nasir.

“Apa kelanjutan Jalin Merapi dan apa kunci suksesnya?” tanya dua orang anggota diskusi. “Jalin Merapi sudah ada akan terus ada, kita sudah berdiri dari 2006 dan sampai saat ini masih ada relawan yang dari tahun 2006 masih aktif sampai sekarang. Untuk pasca bencana, Jalin Merapi  menyediakan jasa tracking dan guiding serta gerakan-gerakan peduli alam”, tegas A Nasir.

“Jika pemerintah tidak sanggup untuk memberikan informasi atau menangani, ya terpaksa, kita-kita ini (rakyat sendiri) yang harus membuat dan menangani itu.” tukas pria murah senyum ini ketika ada Onno W Purbo mengaitkan dengan Tsunami Jepang.

Blontankpoer

Salah satu blogger Indonesia ini menjadi tokoh yang ada di dokufilm @linimas(s)a yang aktif di komunitas blogger yang perannya sangat nyata di Komunitas Blogger Bengawan. Saat ini, Komunitas Blogger Bengawan mempunyai sekretariat bersama dengan Yayasan Talenta, suatu yayasan yang bergerak di advokasi kaum difable. Sebagai salah satu kegiatan, Bengawan juga turut mengenalkan dunia teknologi komunikasi kepada semua lapisan masyarakat khususnya di Solo.

“Kami sudah memliki jadwal pelatihan untuk difable, Pekerja Seks Komersil (PSK), dan pernah mengadakan pelatihan komputer untuk tuna netra yang bekerja sama dengan Yayasan Air Putih.” kata Blontankpoer.

“Salah satu peserta pelatihan, Entok (salah satu tokoh yang ada di dokufilm -red) yang kami latih secara rutin selama dua bulan, sekarang sudah bisa mahir dalam mengoperasikan internet dasar.” Ini yang membuat kaget Onno W Purbo. Dan pada akhir acara, Onno W Purbo, Blontankpoer, Entok dan anggota Talenta berfoto bersama.

Onno W Purbo Bersama Entok "difable" -- Dok: Bengawan

Namun pak Bhe (sapaan akrab Blontankpoer) enggan jika kesuksesan Komunitas Blogger Bengawan dikaitkan dengan dirinya semata. “Ini kerja keras semua anggota Bengawan.”, tukas Blontankpoer.

(untuk foto, biasanya pak Bhe menyuruh untuk mencarinya di Google dengan memasukan kata “blontankpoer”… :D )

Harry DJ

Sebagai korporasi yang bergerak di bidang jasa penyedia layanan komunikasi, Harry DJ mewakili XL Axiata menjawab tentang pertanyaan sekitar penggunaan internet khususnya lewat mobile data dan smartphone.

Harry DJ memberikan data tentang penggunaan mobile handset yang memakai jasa layanannya. “40% dari 40juta pelanggan XL, HP nya bisa terkoneksi langsung dengan internet. Yang aktif setiap hari menggunakan mobile datanya sekitar 12 juta dan hampir semuanya mengakses situs jejaring sosial, Facebook. ”

Terkait dengan ponsel pintar, “Penggunaan BB yang sangat tinggi di Indonesia pada awalnya sampai membuat bingung RIM, pabrikan BB asal Kanada. Pada tahun 2008, pengguna BB dengan layanan XL mencapai seratus ribu pengguna. Sekarang delapan ratus lima belas ribu dari total 3 juta pengguna BB menggunakan jasa layanan dari XL”

Dengan begitu banyaknya pengguna dari XL, apakah XL juga memberikan keamanan bagi remaja? Harry mengatakan bahwa XL sudah melakukan filtering terhadap konten-konten negatif sejak tahun 2008.

Dandhy Laksono

Dandhy Laksono adalah director yang memproduksi dokufilm @linimas(s)a. Dia adalah seorang mantan wartawan dan sekarang bekerja di bidang visual media dan beberapa kali membuat film dokumenter. Selain @linimas(s)a, Dandhy juga terlibat dalam proses pembuatan film dokumenter tentang Munir.

Dalam pembuatan dokufilm @linimas(s)a, Dandhy sendiri mengaku bila ada beberapa tokoh yang belum pernah jumpa darat dan baru ketemu di acara #3GMerapi ini.

“Bagaimana cara pengambilan gambar di dalam film ini?” tanya seorang anggota diskusi. Dandhy menjawab dengan “Yang penting ketekunan untuk merekam semua momen. Ada kalanya ketika mas Nasir ngomong ada posisi yang kurang pas. Semua harus ditangkap. Pada proses produksi, @linimas(s)a menghabiskan 60 kaset dan total 60 jam.”

Ditujukan untuk siapa dan di mana saja film ini? “Film ini sengaja diperuntukan (sementara) untuk komunitas-komunitas yang bergerak di bidang online dan kepada lapisan menengah yang mewah. Nantinya dari komunitas-komunitas ini bisa menjalar ke masyarakat sekitarnya. Bahasa memang terlalu tinggi untuk orang tidak terlalu bersinggungan dengan gadget atau sosial media. Dikarenakan ada gap antara lapisan-lapisan masyarakat dalam teknologi informasi. Jadi target penonton memang sudah di set sedari awal.”, jawab sang director.

Menyinggung tentang teknologi komunikasi khususnya internet yang semakin baik dan semakin mudah didapat, Dandhy Laksono berujar, “Kemudahan teknologi ini bukan karena sosial, namun karena permainan pasar yang membuat ini semua mudah di akses.” Tapi, yang saya sampaikan di sini kurang nendang, kurang dengan bahasa tinggi seorang Dandhy yang pada saat itu sukses membuat peserta bertepuk tangan. Makanya, besok kalo ada acaranya datang deh.. :) )

Dengan fenomena pergerakan dan penghimpunan dengan sosial media, seperti kasus Prita dengan Koin untuk Prita dan Bibit Candra (Gerakan 1 Juta Facebooker), dan Jalin Merapi dengan penanganan bencananya dan kasus-kasus itu memiliki cakupan nasional, maka tegas Dandhy, “Fenomena sosial media yang harus segera dipotret untuk dijadikan referensi masa depan.”

***

*keriting* :D

Itulah tadi bagian dari diskusi, acara dilanjut dengan pertunjukan Wayang Kampung Sebelah yang menuntaskan lakonnya. Sehabis itu ada acara lelang foto-foto Merapi.

Sehabis itu, saya dan Bengawaners, Mas A Nasir + tim Jalin Merapi dan tim Internet Sehat beserta mas Suryaden menikmati makan malam bersama di Gudeg… ehhmm lupa lagi… hehe.. Pokoknya enak, karena perut sudah keroncongan.. he he he

Selepas makan, saya pulang ke Solo dan mulai menghimpun semangat untuk menulis sebanyak ini…. :)

Follow twitter saya di @andreanisme. Walah… Masih sempat-sempatnya promosi..  #jabaterat :D

Thanks to: Internet Sehat, Bengawan, Blontankpoer, Hasssan, Mursid, Hendri, Dony Alfan, Suryaden, Sam Ardi, dan… SPG berbaju putih.. Ada gula ada semut, SPG berbaju putih itu bikin cenat-cenut…

Incoming search terms:

  • diskusi
  • contoh naskah reporter berita mengenai gunung merapi
  • diskusi pelatihan komputer
  • gambar diskusi
  • pertunjukan wayang
  • peran sosial media pada situasi bencana
  • pembuat film linimas(s)a
  • memperbaiki film yang tersendat sendat
  • reporter berita gunung
  • internet sehat film dokumenter dandhy laksono